Keluar dari lingkaran, serta stress-part 2 June 29, 2009
Posted by yudhaindrawan in Uncategorized.trackback
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel ini
Sekedar informasi, mungkin dalam tulisan ini saya lebih sedikit menampilkan sisi pribadi saya lebih dalam. Jadi, kalau anda tidak terlalu berminat dengan cerita-cerita pribadi dengan bumbu2 sedih, kecewa, dll sebaiknya langsung baca artikel selanjutnya aj. Tapi kalau ga terlalu bermasalah, ya selamat menikmati.he..he..
Kejadian-kejadian yang saya tulis di artikel part-1 menjadi pemicu bagi saya untuk berfikir keluar dari lingkaran. Setelah saya melakukan penerawangan ke dalam diri sendiri, saya melihat masalah ini bagaikan gunung es. he..he… Di permukaan hanya nampak seperti bongkahan es biasa tapi di dalam air seperti gunung yang terbalik. (??). Berikut hal-hal yang membuat saya ingin keluar dari lingkaran
- Level saya dan teman-teman saya berbeda. Yups, bisa dikatakan saya sudah tidak terlalu kenal mereka lagi. Meskipun dah saya coba(sekali lagi dicoba) imbangi dengan amalan harian, tapi ntah mengapa saya merasa ga nyatu sama mereka. Sepertinya mereka punya semangat yang saya ga punya.
- Bisa dikatakan saya tidak terlalu puas dengan pencapaian-pencapaian yang saya dapat selama ini. Memang sih, puas tidak ada dalam kamus harian yudha. Saya menjadi seseorang yang berbeda dengan ‘aku ideal’ yang saya buat waktu tingkat 1.
- Hasil ngobrol2 sama teman. Intinya sih mereka mengeluhkan tentang pengelolaan lingkaran di ITB. Ada yang pernah kuliah di kampus lain. Mereka bilang “iya yudh, di kampus ku yang dulu sama di ITB beda. Saya lebih merasa sholeh di sana”. Saya pribadi merasakan hal yang sama. Ntah apa yang terjadi.
Hal-hal tersebut membawa saya pada beberapa pertanyaan (mungkin keragu-raguan). Apakah jalan yang saya tempuh ini benar? apakah wadah yang saya gunakan ini tepat dan sesuai dengan diri saya? apa yang kurang? apa yang salah? Apa ada jalan lain yang cocok?
Selama hampir dua bulan saya memutuskan untuk keluar dari lingkaran untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Saya coba melihat orang-orang di sekitar saya, saya coba melihat orang-orang yang saya anggap sukses yang karakternya beda-beda. Yang SO abis, yang cihuy-cihuy. Anehnya gw benar-benar ga melihat teman-teman yang sholeh, dll, dll. Kemudian saya mencoba-coba. Bisa dikatakan saya berpetualang untuk menjadi orang lain. Melakukan hal yang belum pernah di lakukan.
Akan tetapi usaha saya terhalang fisik, dan waktu ujian tengah semester . Saya jatuh sakit. Beneran lho. Saya mulai sempoyongan. Waktu itu pernah di kamar saya langsung jatuh (untung di kamar, bukan di jalan raya). Kata dokter saya stress berat. ha..ha..ha.. anehnya saya sedikit geli mendengar analisis dokter.-gw sakit gara-gara stress-. he..he.. akhirnya saya coba telepon ke mama n kakak.
Dari peristiwa itu, gw mulai mencari opsi lain. Gw mencoba melihat kembali apa-apa yang gw punya. gw punya keluarga, gw punya lingkaran, gw punya teman ngobrol, gw punya electronic diary. Dan gw memutuskan gw akan memulai hidup baru dari apa-apa yang gw punya itu. Dan
Kalau dilihar-lihat keliatannya gw cuman mutar-mutar doang. putus-nyambung-putus-nyampung kayak BBB. Tapi gw jamin itu ga sia-sia. Cara pikir gw terhadap lingkaran dan diri gw cukup berbeda dibandingkan sebelumnya. Gw ga mengatakan gw semakin sayang dan cinta atau serius sama lingkaran. he..he.. no..no..no..
satu yang pasti, gw masih mencari diri gw sendiri. hmm..hmm..


Comments»
No comments yet — be the first.