Wisata Kuliner jilid 1- Resto Korea n Jepang Han Gug Gwan February 3, 2010
Posted by yudhaindrawan in Bandung, homey korean, homeykorean, korea, restoran korea bandung, tempat baru, Tempat makan, Wisata Kuliner, Wiskul.trackback
Bagi penggemar drama Korea tentu tidak asing lagi dengan serial Dae Jang Geum. Sebuah drama yang mengisahkan perjalanan seorang gadis menjadi Dayang istana(tukang masak di istana). Para penonton serial tersebut tentu sedikit banyak ada rasa penasaran ingin mencicipi makanan yang dimasak oleh para dayang istana. Nah, bagi kalian yang ingin sekali mencoba masakan Korea, tidak ada salahnya bagi kalian untuk mengunjungi restoran Korea dan Jepang: Han Guk gwan.
Restoran ini terletak di dekat jalan sukajadi Bandung. Kalau dari ITB, kita bisa naik angkot Caheum ledeng yang ke arah ledeng. Terus bilang aja sama supirnya tuk turun di restoran Korea. Pokoknya restoran ini terletak sebelum restoran Jepang-Tomodachi. Kesan pertama yang kita dapat mungkin adalah harga. Yups, harga menu-menu di restoran ini benar-benar mahallll. Bukan tipe-tipe restoran mahasiswa. Seingat saya, harga menunya berkisar antara Rp. 60.000 sampai Rp. 150.000 per porsi. Sekali lagi per-porsi saudara-saudara ku.
Eitss…. jangan kaget dulu. Sebenarnya boleh dibilang harga tersebut cukup sebanding lho dengan apa yang kita dapatkan.
Nah, apa aja sih kelebihan-kelebihan restoran ini sehingga harga makanan perporsinya cukup wah?
Pertama: layaknya restoran Minang, pada saat kita tiba pramusaji akan menyediakan belasan piring dengan hidangan yang berbeda-beda di meja kita. Bedanya dengan restoran Minang, hidangan-hidangan tersebut gratis alias tidak bayar. Kita boleh menghabiskan semua hidangan2 tersebut. Mungkin hidangan2 itu adalah appetizer atau hidangan selamat datang. Kedua: kita akan disuguhi minuman berupa teh Korea. Rasa, aroma, dan warna tehnya benar-benar berbeda dengan teh sari wangi atau teh hijau biasa. Ada sedikit rasa-rasa kacang kedelai di teh tersebut. Yang lebih heboh, kita boleh refill sesuka kita. Ketiga: menu hidangan utama itu sendiri. Satu porsi makanan mungkin cukup untuk dinikmati dua orang atau lebih. Karena memang ukuran satu porsi itu benar-benar banyak. Sebagai contoh, satu porsi ayam ginseng itu terdiri dari satu ekor ayam seutuhnya seluruhnya (minus kepala, cakar, bulu, ma komponen ga penting lainnya), ginseng, nasi ketan, dan satu bowl gede kuah. Atau satu porsi soup seafood yang isinya benar-benar satu mangkuk ukuran jumbo bersisi soup seafood. Atau menu yang lebih familiar: ayam goreng yang satu porsi yang terdiri dari belasan potongan ayam yang digoreng (dengan bumbu2 tambahan tentunya). Mungkin sebaiknya saat kalian datang, kalian memesan satu menu untuk dua orang supaya lebih hemat.
Kalau kalian sempat datang ke restoran ini, saya merekomendasikan untuk memesan Bulgogi. Bulgogi ini dihidangkan dengan kompornya serta daun selada, mint, potongan bawang putih dan lombok. Cara makannya pun cukup berbeda. Ambil daging yang kita panaskan tadi, kemudian ‘cocolkan’ ke sambal yang tersedia, lalu letakkan di atas daun mint atau daun selada, lalu tambahkan sayur-sayur atau potongan bawang putih, kemudian bungkus dengan daun mint tadi, lalu kita lahap semuanya ke dalam mulut. Hap.. Sungguh, cara makan yang sangat jenius. Daun mint bercampur dengan daging yang gurih serta sambal yang lezat. mmmm….mmmmm… lezat sekali. Entah kenapa moment-moment saat diriku menikmati Bulgogi masih terngiang-ngiang di benak ku.
Menu lainnya yang saya rekomendasikan adalah nasi campur. Nasi campur ini dihidangkan hangat-hangat di mangkuk yang gedhe. Untuk menikmatinya, kita diberikan sendok ukuran aga panjang (bukan sendok biasa seperti yang ada di warteg tau restoran indonesia lainnya). Waktu itu saya dan teman-teman saya menikmati nasi campur ini di dalam mangkuk besar yang sama. ha..ha…ha.. makanya sendoknya panjang. Supaya memudahkan kita untuk berkompetisi dengan teman-teman kita saat mengambil nasi.
Akan tetapi, namanya juga masakan Korea tentu berbeda dengan masakan Indonesia. Saya pribadi merasa masakan-masakan Korea tidak menggunakan terlalu banyak bumbu atau tidak terlalu menonjolkan bumbu-bumbu tertentu. Rasa yang dominan adalah asem (seems like kimchi or doenjang). Berbeda halnya dengan masakan Minang atau masakan Nusantara lainnya yang bumbunya benar-benar bhineka tunggal ika (maksudnya segala macam bumbu di masukkin ke dalam satu menu).
Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu teman-teman ingat saat makan di restoran ini, terutama bagi yang muslim. Restoran ini juga menyediakan menu-menu daging Beybi(babi maksudnya). Sebagai contoh, Kita sebut saja sup daging (saya aga lupa nama menunya apa). Di menu tertulis sup daging sapi/beybi. Nah, supaya aman, lebih baik kita tidak memesan menu tersebut karena kemungkinan besar mangkuk atau wajan yang digunakan untuk menyediakan sup daging sapi dipakai juga untuk menyediakan sup daging beybi. Mau lebih amannya lagi, sebaiknya kita memesan menu-menu seafood atau vegetarian.
Soal kuahnya? sudah dikonfirmasikan ke waitressnya kalau kuahnya halal dan tidak ada campuran minuman keras, arak, beybi, dan kawan-kawan.
Kemudian, sebaiknya sebelum ke restoran ini kita telah Sholat terlebih dahulu. Kenapa? Bukan karena musholanya. Mushola lumayan nyaman dan bersih. Tapi tempat wudhunya sedikit kurang nyaman. Waktu itu teman-teman saya terpaksa wudhu di wastafel atau pakai semprotan di toilet. Saya sendiri wudhu di taman menggunakan selang yang dipakai untuk menyiram tanaman. Dilihatin sama tamu-tamu lain. he..he..
Sebenarnya ada satu hal yang membuat saya sedikit bingung mengenai konsep restoran ini. Pertama: suasanya seperti restoran Sunda. Dindingnya dari bambu yang dianyam,atapnya juga dari semacam daun2 gitu. Tapi musik yang diputar itu musik K-POP modern: SNSD, super Junior, dll. Kemudian kita juga duduk di kursi. Padahal dari serial2 korea yang kita tonton, biasanya restoran Korea itu duduknya ‘lesehan’ alias duduk di lantai. Saat saya mendengar restoran korea yang saya pikirkan adalah suasana duduk lesehan diiringi musik tradisional Korea dan dilayani oleh pramusaji yang mengenakan baju tradisional Korea.ha..ha..ha.. (saya terlalu banyak berkhayal). Intinya sih dari segi dekorasi dan suasana, saya belum mendapatkan gambaran yang jelas atau tegas mengenai konsep restoran ini. Apakah temanya restoran Korea yang di-sundakan sehingga cocok dengan karakter masyarakat Bandung? Atau temanya adalah Korea yang modern sehingga diputarlah musik-musik modern Korea (lalu kenapa dekorasinya sunda pisan?)?
Terlepas dari paragraf yang sebelumnya, saya pribadi sangat merekomendasikan restoran ini kepada kalian. Kalau boleh saya ucapkan satu kata yang menggambarkan restoran ini saya akan memilih kata ‘kebersamaan’. Yups, semua hal yang berkaitan dengan restoran ini mendorong kita untuk saling berbagi (bayangin aja makan satu porsi bulgogi sendirian). Sekali dalam satu semester tidak ada salahnya kalian mengunjungi restoran ini bersama sahabat. Atau jika kalian mempunyai kolega dari Korea, kalian bisa memberikan kesan yang sangat positif ke kolega anda dengan mengajaknya ke restoran ini. Bagi anda atau kekasih anda yang doyan nonton serial atau drama Korea, saya rasa restoran ini cocok untuk anda (bayangin aj nyuapin bulgogi ke pacar anda, ha..ha…ha..ha.. so sweet).

assalamu’alaikum…
aduuuh… k’yudhaaaa…. ati atiiii
walaupun kita pesen makanan yang gak mengandung ‘beibeh’ tapi itu nggak jaminan lho….
karena kemungkinan tercemarnya gede banget…
nggak cuma dari wajan…
tapi dari alat2 masak,, piso en the geng…
talenan en the bro…
dan yang nggak kalah penting adalah tempat penyimpanan/storage…
nggak ada ceritanya bahan makanan yang disimpen barengan ama daging ‘beibeh’ terjamin kehalalannya…
kecuali resto tsb menerapkan aturan separate kitchen (dapur tempat masak ‘beibeh’ dan non ‘beibeh’ bercerai, pisah ranjang -ini kayak abis kdrt…- termasuk peralatan masak, alat makan, serta tempat nyimpen tentunya… ) atau abis masak ‘beibeh’, sgl peralatannya dicuci 7 kali dan salahsatune pake tanah… (yang naga2nya kemungkinan untuk tidak mungkin lebih gede daripada mungkin..-pan belom tentu si empu resto faham bener tentang beginian…-)
belum lagi masalah bumbu2an… kalo masakan jepang sih saya taunya yang lazim dipake dan bisa dibilang main ingredients tuh mirin (sejenis arak khas jepang selaen sake), terus kecap asin kikkoman (yang dari hasil pengolahannya menghasilkan alkohol sebesar 2%… ada juga yang nggak menghasilkan alkohol sih,, tp kalo tempat produksinya gak dipisah ya sami aji dooong…), terus lagi ada cuka beras a.k.a rice vinegar yang biasanya dicampurin di nasi pas bikin sushi2an itu lho.. (kenapa haram? soalnya cuka beras ini dibuat dari arak beras, jadi haram deeh… berlaku juga bwt cuka apel -yg bikinnya (mostly) dr minuman beralkohol yaitu apple cider-, balsamic vinegar jg -dr tulisan yg ada di http://www.modenabalsamic.com: The basic procedure of production of Balsamic vinegar involves two major steps of transformation:1. Alcoholic fermentation and 2. Acetic oxidation.-, dsb… Hadits yg sy tau tntg ini tuh dr Abu Daud yang meriwayatkan dari Anas, “sesungguhnya Abu Thalhah bertanya kepada Nabi tentang anak yatim yang mendapatkan warisan khamar. Kemudian Nabi bersabda, maka tumpahkanlah dia. Abu Thalhah menyatakan apakah tak sebaiknya dibuat cuka saja. Namun Nabi menjawab, tidak.” wallahu a’lam….)
Honestly i’m a big fan of culinary world too.. i loove food,, always staring to the cook when they cook their food, curious to eat different kind of it and experience the uniqueness of the taste… terus suka ngiri dan kepingiiin banget kalo ada temen cerita2 atw ngajak ke resto ini dan itu tapi statusnya meragukan…
sbg seorang muslim yang doyan makan,, aturan Allah SWT yang satu ini jadi ujian cinta banget bangeeet,, sejauh apa kita berusaha buat nurut sama aturannya… Jadi ya begitulah,, saya jd concern sangat terhadap kehalalan apa2 yang masuk ke perut.. because it will flow within our blood and become our flesh.. it’s true right? that we are what we eat… lagian juga daripada ibadahnye kagak diterima gara2 makan begituan doang,, mendingan cerewet sm yang jual deh… udah mana saya ibadahnya masih balelol… bisa berabe dong kalo dikorting lagi…
ehehe… maap,, ini komen jadi kayak dongeng gini… pake acara numpang curcol lagi… anyway, smg kita dikuatkan dan diberi kemudahan unuk ngejalanin syari’ah-Nya ya… maap kalo ada keserimpet2 lidah yg bikin gak enak ati,, trus kalo ada yang salah mohon dikoreksi.. demi kesejahteraan dan kemakmuran kita bersama… hidup gembul! (lho?)
wassalamu’alaikum…
gw suka ama G dragon dha
ada diputar tak??
@ ira
Wah, G-dragon ma temen-temen Big Bang nya masih kalah imut ma SNSD. Tapi mungkin masih bisa request lagu kok ke Ajussi-ajussi yang jaga restorannya.
kalo bisa ada pic sekalian..hehehehehe
@ demut
wah, thanks banget atas informasinya. Iye juga yah, ga kepikiran soal-soal pisau, dan tempat penyimpanan bahan makanannya. Mungkin hal ini bisa menjadi masukkan tuk pengelola restoran hanguk kwan Bandung untuk menerapkan sistem separate kitchen. btw, maksudnya gembul ap y?
@ teddy
wah, kalau pic sebenarnya ada, tapi bukan foto makanannya atau gambar restorannya. tapi foto saya dan teman-teman saya yang makan disana. Anda tentu lebih tertarik dengan foto masakan korea dibandingkan wajah kami bukan? he..he..he..
saya tertarik bgt ni mencoba restoran ini
berhubung saya lg kuliah d bandung
blh tau ga disini jual kue beras ( rice cake) korea yg sering dibicarakan ga? atau spicy fish cake? krn saya ntn realityshow korea mereka sering banget makan itu selain kimchi,,
dan pengen banget nyobanya,,hehehe
kl ada kira2 hrganya brp ya? makasiii
seperti apa ya rasa masakan korea
@ louis
saya kurang memperhatikan dua menu itu ada atau enggak. Tapi kalau penasaran, mending langsung aja datang ke sana. Mumpung masih dalam suasana chuseok. Siapa tahu waitress2 nya pada pakai hanbuk. he..he..he..
@ ahmad
secara pribadi saya yakin kalau rasanya beda seperti masakan padang.